Kuliner Surabaya, Surabaya

Mie Ayam Yamin Unair FIB, Makan di Tempat Baru

Mie Ayam Yamin Unair FIB – Kali ini aku ingin cerita beberapa waktu lalu menemukan makanan yang telah lama kuinginkan. Jadi awal bulan lalu Anggik, temanku yang kerja di Cimahi pulang ke Surabaya.  Awalnya ia mengajakku ke Depot Slamet, tapi aku menawarkan untuk makan Mie Ayam yang dulunya berjualan di kantin FIB (fakultas Ilmu Budaya) Unair.  Baru-baru ini jadi viral karena sebuah video yang diunggah di feed instagram Kokobuncit.

Mie Ayam Yamin Unair FIB Pindah Ke Mana?

Siapa penggemar mie ayam dan mie yamin angkat tangan? Beberapa waktu lalu ramai di IG, Twitter sampe fess perkara penggusuran kantin alias pujasera FIB yang legendaris itu. Sebagai alumni cukup sedih mengetahuinya,karena kantin FIB dan makanannya penuh kenangan bagiku. Salah satu menu favorit jaman kuliah adalah Mie Yamin dan Nasi Kriwul (Nasi Kriwul pernah kutulis juga).

Warga FIB pasti udah nggak asing sama pangsit Mie Ayam dan Yamin satu ini karena banyak yang memiliki kenangan. Setelah penggusuran itu banyak yang bertanya para pedagang Kantin FIB termasuk Nasi Kriwul dan Pangsit Mie Ayam dan Mie Yamin ini pindah ke mana?

Siang itu, aku melewati gang sempit di sekitar gubeng Jaya Surabaya. Sudah lama nggak mengitari daerah Gubeng membuatku bingung (kamu kapan nggak bingungnya sih, Rie). Berbekal alamat yang kukepoin dari aplikasi ojek daring dan postingan Kokobuncit. Lumayan mbulet, yha Bund. Sempat kesasar juga,dong.  

Mie Ayam Yamin FIB Unair

Setelah sempat kebingungan akhirnya nemu juga tempatnya.  si Anggi udah WA bertepatan aku mau belok ke lokasi

“Bu Per, aku udah sampai nih”

Aku langsung masuk gang, cukup sempit dan terlalu banyak motor yang parkir di sana. Jadi, tempatnya ini berada di depan rumah si penjualnya langsung, Mas Endrat. Rombongnya pun masih kukenali sebagai rombong yang ada di kantin FIB Unair dulu. hahah

Hallo, mas. Sek eleng aku ta?” Sapaku ke mas Endrat, penjual Yamin FIB unair yang cukup kukenali.    

Yo eleng,lah

Duh, Wes suwi nggak makan Yamin. lungguh endi iki” sambil melongok ke sekeliling yang sepertinya tak ada tempat untuk duduk karena lokasinya yang brada di depan rumah warga di mulut gang dan dilalui banyak orang.  Aku dan Anggi sejenak mikir, ini mau makan di tempat atau cari tempat lain. Melihat kebanyakan yang beli untuk takeaway.  

Nang Jero omah kono ae” kata Mas Endrat.

Aku sejenak melongok ke dalam ruang tamu rumah yang disulap jadi tempat makan sederhana. Karena cuaca panas, akhirnya aku memutuskan duduk di teras orang sembari menunggu dua porsi Mie Yamin yang kupesan.

Sambil menyeret 4 kursi plastik yang tersedia aku ngobrol melepas rindu dengan Anggik yang sudah satu tahun ini tak bersua. Terakhir kami bertemu sewaktu makan Rawon Pak Pangat. (Teteup aja kalau ketemu nggak jauh-jauh dari urusan perut). Btw,, lama yak nunggu mie nya.  Nggak di FIB nggak di rumah nunggunya lama. Ya maklum sih, ramai pembeli. Hahaha…

Tapi melihat pembeli yang sebagian besar babang gojek dan go food aku cukup lega, pasalnya sudah 8 bulan ini kan Kampus nggak ngadain perkuliahan tatap muka, yang kupikirkan bagaimana nasib pedagang-pedagang kantin FIB. Ditambah lagi setelah adanya penggusuran. Heheh

Yaa, sepertinya makin ramai sejak beberapa waktu lalu masuk di Feed Instagram Foodies Kokobuncit  ya..

Menikmati Seporsi Mie Yamin

Mie Yamin dengan porsi yang tetap banyak

Begitu tersaji di depanku, tak lupa kuabadikan dulu melalui kamera ponsel dan kupamerkan pada anak-anak di grup. Hahaha karena udah dari lama banyak yang ngiler sama mie satu ini. Begitu kubuat story, yang notice juga bejibun. Sebagian besar mengaku rindu.

Soal rasa, tentunya kembali ke  selera masing-masing ya. Bagiku, yang bikin Mie Pangsit Jakarta FIB Unair ini enak karena juga dibumbui dengan kenangannya yang melekat dalam ingatanku dan beberapa teman. Seakan kembali membawaku pada masa-masa kuliah satu dasawarsa silam. Berhamburan keluar kelas dengan tergopoh-gopoh menju kantin karena kelaparan. Ditambah lagi, harus rebutan tempat duduk Pujasera FIB Unair yang selalu penuh pada jam-jam makan siang, atau harus menunggu lama antrean Mie Yamin karena banyak pesanan. Ahh… sayang kini hanya bisa mengenang karena kantinnnya pun sudah lenyap karena penggusuran.

Soal penyajian, teman-teman bisa baca di tulisanku ini tentang beda Pangsit Mie Aya dan Mie Yamin <<klik

Lokasi Mie Yamin dan Pangsit Mie Ayam FIB Unair Sekarang

Sebenarnya, lokasi Mie Yamin dan Pangsit Mie Ayam FIB Unair Sekarang ngak seberapa jauh dari kampus. Bahkan ketika aku makan, masih bisa melihat bangunan Syariah Tower milik Unair. Tepatnya di Gubeng Jaya SR No 18.  Atau kalian bisa cari melalui peta di bawah ini

Harga Satu Porsi Mie Yamin

Masih sama seperti setahun lalu saat aku makan bersama Adel, seporsi Mie Yamin masih dibanderol dengan harga 12.000 per mangkuk dengan porsi yang cukup membuatku kenyang. Sedang es the jumbonya 3000 rupiah.  Kalau kalian mager, juga tersedia di Gofood dan Grabfood tentunya dengan harga yang berbeda.

Yaa karena letak rumahku yang cukup jauh dari kawasan Gubeng, lebih baik makan di tempat saja kalau kebetulan lewat. Kalau order online, keburu nggak enak dong sampai rumah. Hahaha

Oiya lupa gaes, Aku dan Anggik tetap memerhatikan protokol kesehatan kok. Meski yaa…. orang-orang yang datang ke sana nggak semuanya menerapkan protokol kesehatan. Udah pernah nyobain? Atau teman-teman ada rekomendasi Mie Yamin enak lain di Surabaya? Coba tulis di kolom komentar, siapa tahu pas lewat bisa kucobain.  

Tagged , , , ,

About Rieagustina

Selain Suka Pantai, Aku juga suka kamu :)
View all posts by Rieagustina →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *